Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Selamat pagi (waktu Saudi) "murid-murid". Hari ini "cikgu" mau melanjutkan "Kuliah Virtual" sebelumnya yang berjudul "China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk" (bagi yang "mbolos sekolah" dan belum sempat baca postingan ini, silakan dibaca dulu). Seperti saya jelaskan, dulu, pada zaman "Perang Dingin" antara "Blok Kapitalis" Amerika melawan "Blok Komunis" Uni Soviet memang hubungan antara negara-negara Arab Teluk (Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman) dengan PRC (Republik Rakyat China) juga ikut "dingin" dan membeku karena PRC ngeblok Soviet, sedangkan negara-negara Arab Teluk ngeblok Ngamirika. Tapi itu dulu mas bro dan mbak sis. Sekarang zaman sudah berubah: Soviet sudah jadi almarhum, PRC (China) sudah menjadi "negara gado-gado" setengah komunis dan setengah kapitalis. Bahkan sejak beberapa dekade silam, China atau Tiongkok lebih mengutamakan ekonomi dan kemajuan negara/rakyat ketimbang masalah ideologi. Pelan tapi pasti, sikap negara-negara Arab Teluk atau biasa disebut GCC (Gulf Cooperation Council) juga berubah. Jika sebelumnya, mereka emoh membangun hubungan diplomatik dengan PRC, maka sejak pertengahan 1980-an, mereka mulai membuka diri dengan "Negeri Panda". Pada tahun 1984, Uni Emirat Arab membuka hubungan diplomatik dengan China, Qatar menyusul pada tahun 1988, Bahrain pada 1989, lalu Saudi pada 1990. Meskipun awalnya hubungan bilateral kedua negara (baik hubungan diplomatik "G to G" maupun relasi dagang "D to D") masih "malu-malu kucing", kini hubungan antara kedua kawasan ini (lagi, baik di jalur diplomatik mapun bisnis) sudah sangat terbuka dan terang-terangan berdasarkan azas simbiosis mutualisme. Sekarang "onta" dan "panda" saling berpelukan mesra. Para petinggi dari kedua kawasan saling berkunjung dan menyambangi dengan hangat (silakan baca postinganku sebelumnya). Hasilnya luar biasa: hubungan ekonomi GCC-China saat ini jauh melebihi relasi antara RRI (Republik Rakyat Iran) dan RRC (Republik Rakyat China) yang sudah sejak lama menjalin hubungan mesra. Pada tahun 2012 saja, perdagangan GCC-China mencapai $155 Milyar (bandingkan dengan Iran-China yang cuma $37 Milyar). Dalam satu dekade ke depan, GCC-China menargetkan $350 Milyar dalam investasi dagang. China sendiri, dalam satu dekade terakhir ini, merupakan eksportir terbesar (mengalahkan AS) untuk GCC dengan total ekspor senilai $60 Milyar per tahun. Sementara itu, China mengimpor minyak mentah dari GCC lebih dari 25% kebutuhan di negaranya (sedangkan impor minyak dari Iran hanya 9% saja). Kerja sama bisnis saling menguntungkan itu dilakukan di hampir semua sektor: energi, pertambangan (perminyakan), infrastruktur, konstruksi, telekomunikasi, tekstil, transportasi, aerospace, keuangan, dlsb. Perusahan-perusahan raksasa di kedua kawasan saling berinvestasi dan membuka cabang di GCC dan PRC. Awal tahun lalu, Presiden Xi Jinping kembali mengadakan lawatan ke Saudi (sebagai "bos" GCC) seperti foto di bawah ini (courtesy: Middle East Institute, Washington, DC) dan mengadakan pertemuan dengan Sekjen GCC, Abdul Latif bin Rasyid al-Zayani, untuk kembali memantapkan hubungan bisnis dan partnership PRC-GCC. Tahun sebelumnya, Presiden GCC Hamad bin Isa al-Khalifa yang juga Raja Bahrain, juga mengadakan lawatan ke China untuk memantapkan hubungan bilateral PRC-GCC. Dalam kunjungannya ke Saudi ini, Presiden Xi ditemani oleh sejumlah elit pejabat PRC seperti Yang Jiechi, Wang Huning, Li Zhanshu, dlsb. Kerjasama positif-konstruktif PRC dengan GCC (dan juga Timur Tengah secara umum) ini dilakukan di bawah platform dan strategi "One Belt, One Road" yang diinspirasi oleh filosofi kuno Tiongkok Tai Chi yang menekankan pada keseimbangan Yin dan Yang sebagai pembentuk Tao. Bagimana kisah selanjutnya hubungan mesra mereka? Faktor-faktor mendasar apakah yang mendasari hubungan mesra mereka yang dulu begitu "dingin" kini menjadi "hangat"?

Selamat pagi (waktu Saudi) "murid-murid". Hari ini "cikgu" mau melanjutkan "Kuliah Virtual" sebelumnya yang berjudul "China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk" (bagi yang "mbolos sekolah" dan belum sempat baca postingan ini, silakan dibaca dulu). Seperti saya jelaskan, dulu, pada zaman "Perang Dingin" antara "Blok Kapitalis" Amerika melawan "Blok Komunis" Uni Soviet memang hubungan antara negara-negara Arab Teluk (Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman) dengan PRC (Republik Rakyat China) juga ikut "dingin" dan membeku karena PRC ngeblok Soviet, sedangkan negara-negara Arab Teluk ngeblok Ngamirika. Tapi itu dulu mas bro dan mbak sis. Sekarang zaman sudah berubah: Soviet sudah jadi almarhum, PRC (China) sudah menjadi "negara gado-gado" setengah komunis dan setengah kapitalis. Bahkan sejak beberapa dekade silam, China atau Tiongkok lebih mengutam...

China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk

Banyak orang di Indonesia saya perhatikan salah paham dan gagal paham memahami hubungan China dengan negara-negara Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman. Mereka menganggap China hanya menjalin partnership dengan Iran, bukan negara-negara Arab. Ada juga yang berapologi kalau negara-negara Arab tidak mungkin menjalin relasi dengan China yang "komunis". Sejumlah asumsi itu sama sekali tidak benar. Haqqul yaqin keliru dan hoax. Dulu, sejak 1949, saat Mao Tse Tung dan Partai Komunis menguasai Tiongkok, kedua negara memang tidak memiliki hubungan bilateral, baik hubungan diplomatik maupun relasi bisnis karena China berada di "gerbong Soviet" yang komunis sementara negara-negara Arab Teluk, terutama Saudi sebagai komanandannya, berada di "blok Amerika" yang kapitalis. Tetapi sejak Uni Soviet rontok pada 1989 dan wilayah kekuasaanya "mbrodoli" sejak awal 1990-an, ditambah dengan China yang melakukan reformasi ...

Antara Politik Ulama dan Ulama Politik

Setiap kali pagelaran politik ini digelar, para ulama dan tokoh agama (termasuk ustad, pemimpin ormas keagamaan, penceramah, pimpinan institusi agama, akademisi, dlsb.) ikut sibuk menjadi "corong” atau " echo ” para politisi dan kandidat atau pasangan calon (paslon) tertentu. Bahkan tidak sedikit para tokoh agama dan ulama yang ikut terjun langsung menjadi "paslon” dan "cawan” (calon dewan) bersaing dengan tokoh-tokoh dari kubu lain. Fenomena paslon dan "cawan” dari kelompok ulama dan tokoh agama ini sudah menjadi trend dan "menggurita” pasca rontoknya rezim Orde Baru tahun 1998 yang menandai dibukanya kembali kran demokrasi di Indonesia setelah sekian lama "mati suri". Sejak itu, lantaran ada peluang dan kesempatan untuk menjadi politisi atau birokrat, banyak para tokoh agama dan ulama yang kambuh "syahwat” politiknya. Sampai saat ini, banyak tokoh agama dan ulama yang "ereksi” terhadap politi. Ulama "asketis”...

Sejarah Islam di Tiongkok (5)

Jika pada masa Dinasti Tang dan Dinasti Song, komunitas Muslim belum menunjukkan peran maksimal (simak "Kuliah Virtual" sebelumnya), maka pada masa Dinasti Yuan, umat Islam mulai memegang peran penting dan central di China (Tiongkok). Berdiri secara resmi pada tahun 1271, Yuan adalah dinasti yang dikontrol oleh etnik Mongol yang sebelumnya sukses menggulingkan Dinasti Song (Sung) yang dikendalikan oleh etnik Han. Sejak akhir abad ke-12 / awal abad ke-13, Mongol adalah kekuatan besar di seantero Asia dan Timur Tengah. Mongol menjadi kerajaan superpower sejak Jenghis Khan (w. 1227) berhasil menyatukan sejumlah suku nomad di berbagai kawasan di Asia. Kelak, Imperium Mongol mengalami masa kejayaan yang gemilang di tangan para cucu Jenghis Khan, terutama Hulagu Khan dan Kubilai Khan. Jika Hulagu Khan ini sukses menaklukkan Kerajaan Islam raksasa yang mulai ringkih pada abad ke-13, yaitu Daulah Abbasiyah, yang berpusat di Baghdad, pada tahun 1258, maka Kubilai ...

Konsep "Negara Islam" Itu Sekuler (2)

Seperti saya jelaskan sebelumnya, ide atau konsep "Negara Islam" itu adalah profan-sekuler, bukan sakral-relijius, karena konsep ini merupakan buah dari ijtihad, tafsir, pemikiran dan pemahaman manusia atas sejumlah ayat, teks, dan diskursus keislaman. Apapun yang lahir dari kreativitas pemikiran-kebudayaan manusia, maka itu adalah sekuler. Dalam konteks ini, maka kosnsep "Negara Islam" itu sama dengan konsep negara lainnya yang dibangun atas dasar atau dipengaruhi oleh sejumlah filosofi tertentu. Yang berbeda adalah fondasi filosofi atau sumber inspirasi negara tersebut. Misalnya, jika "Negara Islam" dibangun atas dasar atau diengaruhi oleh sejumlah teks dan wacana keislaman, maka "Negara Komunis" dibangun atas, dipengaruhi oleh, atau bersumber dari filosofi "Komunisme". Begitu pula negara-negara lain yang mengklaim sebagai "Negara Demokrasi" dibangun atas dasar sejumlah filosofi seperti liberalisme dlsb. ...

Konsep "Negara Islam" itu Sekuler

Anggapan sejumlah tokoh, sarjana, dan kelompok Islam di Indonesia (dan juga berbagai negara lain) bahwa konsep "Negara Islam" itu yang paling "agamis", "Islami", "Qur'ani", atau bahkan "Allahi" (maksudnya, sesuai dengan "kehendak Allah") itu sama sekali tidak benar. Semua konsep sistem politik-pemerintahan atau sistem ekonomi--apapaun namanya--adalah sekuler, dalam pengertian "produk pemikiran kebudayaan manusia". Sebagaimana sistem-sistem politik-pemerintahan lain yang ada di muka bumi dewasa ini, konsep "Negara Islam" (atau "daulah islamiyah") adalah buah dari ijtihad, pemahaman, tafsir, dan pemikiran sekelumit umat manusia, baik para sarjana-ideolog maupun politisi-aktivis Muslim, sebagai bentuk respons atas perkembangan sosial-politik-ekonomi yang terjadi di wilayah mereka masing-masing. Apapun yang namanya "produk pemikiran kebudayaan manusia" itu bersifat profan...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Imajinasi Jihad di Jalan Allah

Kalau dilihat dari foto ini (itupun kalau bukan hoax alias "foto editan" he he), sepertinya Pak Ustad Arifin Ilham sedang semangat latihan perang-perangan menggunakan parang. Ciaattt ciaaatttt. Mungkin ia sedang kangen dan merindukan suasana masa lampau Islam. Pak ustad yang hobi mewek dan nangis-nangis kalau ceramah ini juga beberapa kali menyerukan "jihad" (maksudnya "perang") dengan heroiknya dan "gagah perkasa". Jihad melawan siapa? Mau jihad dimana? Jihad melawan Pak Jokowi dan pemerintah? Itu mah bukan jihad namanya bro. Kalian baru "valid" melakukan jihad di Indonesia, kalau hak-hak seorang Muslim untuk beribadah dan berekspresi dibatasi dan diberangus seperti dulu zaman pemerintah kolonial. Lah sekarang, kalian bebas-merdeka mau melakukan apa saja gak ada masalah. Mau haji atau umrah puluhan kali silakan. Mau bikin masjid / musalla di tiap gang silakan. Mau bengak-bengok ceramah silakan. Bahkan sangking beb...