Langsung ke konten utama

China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk

Banyak orang di Indonesia saya perhatikan salah paham dan gagal paham memahami hubungan China dengan negara-negara Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman. Mereka menganggap China hanya menjalin partnership dengan Iran, bukan negara-negara Arab. Ada juga yang berapologi kalau negara-negara Arab tidak mungkin menjalin relasi dengan China yang "komunis". Sejumlah asumsi itu sama sekali tidak benar. Haqqul yaqin keliru dan hoax.
Dulu, sejak 1949, saat Mao Tse Tung dan Partai Komunis menguasai Tiongkok, kedua negara memang tidak memiliki hubungan bilateral, baik hubungan diplomatik maupun relasi bisnis karena China berada di "gerbong Soviet" yang komunis sementara negara-negara Arab Teluk, terutama Saudi sebagai komanandannya, berada di "blok Amerika" yang kapitalis.
Tetapi sejak Uni Soviet rontok pada 1989 dan wilayah kekuasaanya "mbrodoli" sejak awal 1990-an, ditambah dengan China yang melakukan reformasi kebijakan politik-ekonomi yang setengah komunis dan setengah kapitalis, Arab Teluk mulai menjalin hubungan mesra dengan China. Kini, seiring dengan ledakan ekonomi yang luar biasa di China, "Negara Panda" ini menjadi partner strategis dan "auliya" (teman setia) negara-negara Arab Teluk, dan tentu saja termasuk Saudi.
Meskipun pada 1985 terjadi pertemuan resmi tertutup antara Saudi dan China di Oman, hubungan diplomatik secara resmi antara kedua negara baru dilakukan pada tahun 1990. Meski hubungan diplomatik sudah terjadi sejak 1990 tapi baru 1999 Presiden PRC Jiang Zemin mengunjungi Riyadh yang disambut sangat hangat oleh kerajaan. Kunjungan itu menghasilkan berbagai keputusan penting kerja sama ekonomi tertutama di bidang energi dan perminyakan. Saudi membalas kunjungan kenegaraan ketika pada tahun 2006, mendiang Raja Abdullah mengadakan kunjungan bersejarah ke Beijing. Empat bulan berikutnya, Presiden Hu Jintao juga mengunjungi Saudi.
Tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman kembali mengunjungi PRC (China) yang disambut hangat oleh Presiden Xi Jinping. Selain China, Purtra Mahkota Muhammad bin Salman juga mengunjungi Jepang. China dan Jepang memang dua negara terbesar negara-negara tujuan ekspor bagi Saudi, selain Korea Selatan, India, dan Amerika.
Berbagai kunjungan resmi para pemimpin di kedua negara itu menghasilkan berbagai keputusan penting menyangkut kerjasama kedua negara, bukan hanya kerja sama di dunia ekonomi dan bisnis saja tetapi juga di bidang politik, kemiliteran, dan kebudayaan. Di bidang ekonomi dan perdagangan, total investasi kedua negara mencapai lebih dari $75 Milyar, melebihi hubungan dagang Saudi-USA.
Penting untuk dicatat, China adalah importir terbesar minyak dari Saudi yang mengsuplai lebih dari 20% kebutuhan energi di Negara Panda itu, dan Saudi adalah penyetok minyak terbesar bagi China. Berbagai industri papan atas Saudi termasuk Aramco (industri minyak terbesar di dunia) dan SABIC yang bergerak di Petrochemicals sudah lama beroperasi di China. Begitu pula perusahan top Tiongkok seperti Sinopec dan PetroChina Co juga beroperasi di Saudi.
Bukan hanya di bidang energi, pertambangan, dan perminyakan saja, kerja sama kedua negara terjadi hampir di semua sektor: telekomonukasi, transportasi, industri tekstil, dlsb. Hasilnya sungguh luar biasa: produk-produk China membanjiri bahkan "mengtsunami" pasar Saudi: ponsel, TV, bus, pakaian, makanan, dan pernik-pernik lain (seperti jubah, abaya, sajadah, tasbih, "boneka onta", dan aneka "oleh-oleh kaji" semua "made in" China! Subhannallah eh salah, astagfirullah. Bahkan China kini juga berpartisipasi membangun konstruksi rel kereta api yang menghubungkan Makah dan Madinah lewat Jeddah sehingga memudahkan perjalanan haji dan umrah.
Demikian kuliah virtual short time hari ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...