Langsung ke konten utama

Sejarah Islam di Tiongkok (5)


Jika pada masa Dinasti Tang dan Dinasti Song, komunitas Muslim belum menunjukkan peran maksimal (simak "Kuliah Virtual" sebelumnya), maka pada masa Dinasti Yuan, umat Islam mulai memegang peran penting dan central di China (Tiongkok). Berdiri secara resmi pada tahun 1271, Yuan adalah dinasti yang dikontrol oleh etnik Mongol yang sebelumnya sukses menggulingkan Dinasti Song (Sung) yang dikendalikan oleh etnik Han.
Sejak akhir abad ke-12 / awal abad ke-13, Mongol adalah kekuatan besar di seantero Asia dan Timur Tengah. Mongol menjadi kerajaan superpower sejak Jenghis Khan (w. 1227) berhasil menyatukan sejumlah suku nomad di berbagai kawasan di Asia. Kelak, Imperium Mongol mengalami masa kejayaan yang gemilang di tangan para cucu Jenghis Khan, terutama Hulagu Khan dan Kubilai Khan.
Jika Hulagu Khan ini sukses menaklukkan Kerajaan Islam raksasa yang mulai ringkih pada abad ke-13, yaitu Daulah Abbasiyah, yang berpusat di Baghdad, pada tahun 1258, maka Kubilai Khan kelak berseteru dengan Kerajaan raksasa di Jawa Timur (Kerajaan Singasari) sebelum Majapahit. Kubilai Khan bahkan mengirim ribuan tentara untuk menggayang Raja Kertanegara sebagai aksi balas dendam (kapan-kapan akan saya tulis kisah heroik ini).
Ketika Hulagu Khan berhasil dengan gemilang melumpuhkan Kerajaan Abbasiyah, ia memboyong mayoritas sarjana, ilmuwan, birokrat, para komandan perang dan tentara, dlsb, ke Tiongkok untuk ikut membantu membesarkan Dinasti Yuan sekaligus guna menggembosi peran etnik Han yang merupakan etnik mayoritas di Tiongkok. Strategi politik-kekuasaan Dinasti Yuan kala itu adalah "strategi belah bambu": sebagian diinjak, sebagian lagi diangkat.
"Kelompok yang diinjak" (baca: tidak mendapatkan posisi penting dan keistimewaan lain) adalah kelompok etnik yang dikategorikan sebagai "Han" yang bukan hanya etnik Han Tiongkok saja tetapi juga Korea, Khitan, Bohai, Jurchen, dlsb yang berpotensi merongrong kekuasaan Mongol. Sedangkan kelompok yang diangkat (baca: mendapat posisi penting dan aneka keistimewaan lain) termasuk orang-orang Islam Arab dan Persi, Yahudi, Kristen (terutama Kristen Turki), Uyghur, dan Tibet.
Di antara sekian etnik/kelompok "non-pribumi" ini, Muslim-lah (Arab, Persia, Turki, maupun dari suku-suku di Asia Tengah) yang paling banyak mendapatkan posisi penting sebagai elit birokrat, petugas keuangan, pengontrol dinas-dinas perdagangan, sampai di jajaran elit militer dan penasehat raja. Pada masa Raja Kubilai Khan, Dinati Yuan dibagi menjadi 12 provinsi yang dipimpin oleh gubernur dan wakil gubernur. Menurut sejarawan Rasyid al-Din Fadlullah, dari 12 provinsi ini, 8 provinsi dipimpin oleh Gubernur Muslim, sementara sisanya (4 provinsi), Muslim menjadi wakil gubernur.
Waktu itu memang banyak umat Islam (baik yang beretnik Persi, Arab, Turki, Berber, Kurdi, maupun dari sejumlah kelompok etnik di Asia Tengah) yang menjadi admnistrator, komandan, dan ilmuwan hebat sehingga wajar saja kalau dimanfaatkan oleh raja-raja Mongol. Arsitektur ibukota Yuan itu sendiri yang bernama Dadu atau Khanbaliq (kini di kawasan Beijing) yang mendesain adalah arsitek Muslim yang dikenal dengan nama Amir al-Din (Yeheidie'erding).
Pada masa Dinasti Yuan ini pulalah dulu masjid-masjid banyak dibangun di seantero Tiongkok. Jika pada masa dinasti-dinasti sebelumnya, umat Islam hanya terkonsentrasi di sejumlah wilayah, maka pada masa Dinasti Yuan ini (yang menurut sejarawan ahli kajian Islam China, Raphael Israeli konon populasi umat Islam mencapai 4 juta di zaman itu), mereka tersebar di berbagai daerah di Tiongkok: Beijing, Ghuangzhou, Quanzhou, Yuangzhou, Wenzhou, Ningbo, Shanghai, Chang'an, dlsb. (bersambung).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...