Selamat pagi (waktu Saudi) "murid-murid". Hari ini "cikgu" mau melanjutkan "Kuliah Virtual" sebelumnya yang berjudul "China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk" (bagi yang "mbolos sekolah" dan belum sempat baca postingan ini, silakan dibaca dulu). Seperti saya jelaskan, dulu, pada zaman "Perang Dingin" antara "Blok Kapitalis" Amerika melawan "Blok Komunis" Uni Soviet memang hubungan antara negara-negara Arab Teluk (Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman) dengan PRC (Republik Rakyat China) juga ikut "dingin" dan membeku karena PRC ngeblok Soviet, sedangkan negara-negara Arab Teluk ngeblok Ngamirika. Tapi itu dulu mas bro dan mbak sis. Sekarang zaman sudah berubah: Soviet sudah jadi almarhum, PRC (China) sudah menjadi "negara gado-gado" setengah komunis dan setengah kapitalis. Bahkan sejak beberapa dekade silam, China atau Tiongkok lebih mengutam...
Banyak orang di Indonesia saya perhatikan salah paham dan gagal paham memahami hubungan China dengan negara-negara Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman. Mereka menganggap China hanya menjalin partnership dengan Iran, bukan negara-negara Arab. Ada juga yang berapologi kalau negara-negara Arab tidak mungkin menjalin relasi dengan China yang "komunis". Sejumlah asumsi itu sama sekali tidak benar. Haqqul yaqin keliru dan hoax. Dulu, sejak 1949, saat Mao Tse Tung dan Partai Komunis menguasai Tiongkok, kedua negara memang tidak memiliki hubungan bilateral, baik hubungan diplomatik maupun relasi bisnis karena China berada di "gerbong Soviet" yang komunis sementara negara-negara Arab Teluk, terutama Saudi sebagai komanandannya, berada di "blok Amerika" yang kapitalis. Tetapi sejak Uni Soviet rontok pada 1989 dan wilayah kekuasaanya "mbrodoli" sejak awal 1990-an, ditambah dengan China yang melakukan reformasi ...