Langsung ke konten utama

Karya Yang Menyalahi Amanah

SESEORANG berkata, “Aduh, saya melupakan sesuatu.” Lalu, karena melupakan sesuatu itu, entah dompet, handphone, kunci rumah, dan seterusnya, maka dia menjadi galau, uring-uringan, dan merasa bahwa segalanya telah hancur. Padahal, dia telah mengalami hal seperti ini berulang-ulang kali, hidupnya tidak pernah hancur.
Ketahuilah, melupakan banyak hal itu tidak berarti apa-apa dibandingkan kita melupakan satu hal. Satu hal itu adalah sesuatu yang pernah dititipkan oleh Allah kepada langit, lalu langit menolaknya. Pernah pula dititipkan kepada bumi, bumi pun menolaknya. Juga kepada gunung, gunung pun tidak bersedia menolaknya. Lalu sekonyong-konyong manusia mau mengembannya. Allah SWT. berifman dalam Qs. al-Ahzab 72, bahwa Dia telah menawarkan amanah kepada langit dan bumi serta gunung-gunung, semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.
Apakah amanah yang diemban oleh manusia itu? Amanahnya adalah Ishlah, berbuat baik. Allah berfirman lagi dalam Qs. al-Isra’: 70, bahwa Allah SWT. telah memuliakan anak Adam. Dengan apa Allah memuliakan anak Adam? Dengan akal, kehendak, dan potensi-potensi. Faktanya adalah bahwa alam semesta ini dibangun oleh manusia. Segala macam bentuk infrastruktur dibangun oleh manusia. Gunung-gunung yang hijau, diperindah lagi oleh manusia. Lautan yang menghampar luas, dibersihkan oleh manusia agar enak dilihat. Hamparan tanah yang awalnya mati, dihidupkan kembali dijadikan kebun-kebun atau perumahan, oleh manusia. Tugas manusia hanyalah mengemban amanah itu sebaik-baiknya. Apa amanah itu? amanahnya adalah al-ishlah, yaitu melakukan perbaikan-perbaikan.
Maka manusia menjalankan aktivitasnya dengan berkarier, berusaha menjabat jabatan-jabatan tertentu, bekerja mencari nafkah, menjalani jenjang pendidikan, membangun fasilitas-fasilitas, melakukan penelitian-pentelitian, dan seterusnya dan seterusnya. Inilah yang dinamakan dengan al-ishlah, yaitu perbaikan. Perbaikan untuk siapa? Semua itu seharusnya dilakukan hanya untuk Allah. Mengenai apakah semua itu membuat Anda-Anda menjadi orang kaya-raya, itu masalah yang lain.
Lalu, disamping al-ishlah atau perbaikan, manusia mengambil jalan yang lain, yaitu al-ifsad atau perusakan. Hobby menjadi pengangguran atau bermalas-malasan, merampok, korupsi, mencuri, menipu, memanipulasi, mengurangi timbangan, mengurangi spec dalam proyek, dan seterusnya dan seterusnya. Dengan mengambil jalan ini berarti manusia telah menyalahi amanah.
Suatu hari Amir Barwanah berkata kepada Maulana Jalaluddin Rumi: Wahai Tuan, alangkah beruntungnya saya ini, tuan telah mengajari saya banyak hal, memperlakukan saya dengan begitu baiknya, melebihi yang lainnya, padahal saya sibuk mengurus pasukan yang menangani Mongol. Alangkah baiknya jika saya mengikat tangan saya agar tidak bisa pergi ke mana-mana dan melayani tuan dengan sangat baik. Lalu Maulana Jalaluddin Rumi berkata, “Saya tidak berlebihan menghormatimu. Engkau memang layak untuk dihormati. Saya menghormatimu karena engkau adalah orang yang baik. Engkau rela menghabiskan tenaga, waktu, dan pikiran, serta hartamu untuk mengurusi pasukan agar membuat hati rakyatmu menjadi tentram dan aman. Engkau rajin mengejar cita-citamu. Engkau sangat berambisi membangun kariermu. Engkau telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia.” Begitulah tanggapan Maulana Jalaluddin Rumi mengenai pekerjaan Amir Barwanah, yang terlihat sangat sibuk mengurus dunia, padahal pekerjaannya itu sangat bermanfaat bagi orang banyak, agar dapat melakukan aktivitas sehari-hari mereka dan tentu saja ibadah-ibadah kepada Tuhan mereka.
Jerami, arang, kayu bakar, batu-bara adalah benda-benda yang sering tampak tak berharga, hitam, bau, kotor, kasar, dan lusuh. Persis seperti banyak orang juga begitu: berbaju lusuh, berkeringat dan bau, bermuka hitam pekat dan berkeringat, kulitnya kusam dan hitam, semua tampak menjijikkan. Jerami, kayu bakar, arang, dan batubara ini membakar dan menghasilkan api atau energy. Mereka menerangi berbagai penjuru negeri. Mereka mematangkan masakan-masakan. Mereka menaungi manusia-manusia dengan wujud rumah atau hotel-hotel. Sesungguhnya, apa yang tampak di mata manusia itu hanyalah kulit luaran semata. Manusia yang sehat akalnya akan melihat essensinya. Manusia yang dalam kondisi tak sadar akan melihat bentuk luaraannya saja. Betapa banyak orang-orang yang bertampang keren, berpakaian bagus, bertingkah-laku sopan, berbahasa santun, namun pekerjaan mereka melakukan kerusakan-kerusakan? Mereka bersekongkol memanipulasi proyek, memainkan anggaran, memanipulasi pajak, merusak jalanan dengan mengurangi spek, merusak pendidikan, pasar ikan, jalan tol, perumahan, buku-buku, kesehatan masyarakat, dan seterusnya dan seterusnya. Sekali lagi kita sering tertipu kulit luaran.
Aksiden atau hal yang tampak di luar itu penting, bukannya tidak penting. Daging tanpa kulit tidak akan bisa hidup. Demikian juga sebaliknya. Dua-duanya penting. Aksiden yang indah tetap penting, karena tanpanya kebersihan essensi patut dipertanyakan. Sebuah apel yang kulitnya bonyok kemungkinan besar biasanya essensinya tidak baik. Manusia yang kata-katanya kotor pun biasanya mengindikasikan keruhnya essensi orang tersebut. Jadi, aksiden itu tetap penting. Tetapi aksiden seperti apa yang kita pahami? Baju lusu itu aksiden atau hanya penampilan saja? Baju lusuh itu bukan aksiden, dia hanyalah penampilan luar. Aksiden dari setiap karya itu pekerjaan, jabatan, atau titel. Doktor itu aksiden, essensinya adalah karya. Direktur itu aksiden, essensinya adalah karya. Manajer itu aksiden, essensinya adalah karya. Pembantu rumah tangga itu aksiden, essensinya adalah karya. Menteri itu hanyalah aksiden, intinya adalah karya. Pada tingkatan tertentu, karya itu hanyalah aksiden, essensinya adalah output. Output yang mediocre membuat jabatan apapun tak melakukan ishlah atau perbaikan. Lebih-lebih Anda-Anda yang dipercaya oleh Allah dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, segala macam aktivitas Anda yang tidak menghasilkan karya yang baik itu bukan dalam tataran ishlah. Anda seperti menyalahi amanah itu.
Dan tahukan Anda apa amanah terbesar Allah kepada manusia? Amanah-Nya yang terbesar adalah akal. Itu mengapa Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa agama itu akal, bagi siapa pun yang tidak menggunakan akalnya, dia seperti tidak beragama. Artinya, jika amanah ini tidak menghasilkan karya yang mushlih (yang memperbaiki) sebagaimana amanah tadi, maka Anda sama seperti mengkhianati kepercayaan Allah. Karya akal tidak harus berbentuk tulisan, pemikiran jenius, atau bangunan-bangunan infrastruktur ala insinyur. Anda yang sekarang hanya menjadi rakyat jelata biasa seperti saya pun bisa berkarya yang logis dengan menggunakan pikiran sebaik-baiknya. Hasil dari akal pikiran yang sudah pasti berbeda satu dengan yang lainnya itu tidak mengapa asalkan langkah-langkah berpikirnya sudah dilalui. Sepanjang hasilnya menurut Anda adalah mushlih, Anda masih dalam koridor menjaga amanah itu. Wallahu a’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...