Langsung ke konten utama

Tawassul dan Wasilah

Beberapa orang membacakan surat Al-Fatiha untuk almarhum emak saya. Dalam tradisi NU biasanya pembacaan itu dimulai dengan Fatiha untuk nabi. Ilaa hadratin nabii, muhhamad mustafa, sai'un lillahi lahumul fatihah. Kemudian dibacakan Fatiha. Setelah itu, dibacakan Fatiha untuk para sahabat, tsumma ilaa ruuuhi.... Kemudian untuk para ulama. Lalu untuk para orang tua kita. Niatnya membacakan Fatiha, dan pahalanya dihadiahkan kepada orang-orang yang disebut tadi. Kebiasaan tadi adalah kebiasaan orang NU. Ajaran ini pangkalnya ada di ajaran tawassul dan wasilah. Apa itu? Ini ajaran yang mempercayai bahwa kita dapat berhubungan dengan Allah melalui orang-orang suci, yaitu nabi-nabi, sahabat nabi, pengikut sahabat (tabi'in), pengikut dari pengikut (tabi't tabi'in), dan para ulama. Mereka orang-orang yang dekat dengan Allah. Maka untuk mendekat kepada Allah, kita bisa mendekatkan diri kepada mereka. Orang Muhammadiyah menolak paham ini. Bagi mereka, hubungan dengan Allah itu sifatnya langsung, tidak memerlukan perantara. Jadi, langsung saja, jangan pakai perantara. Demikian pula, pahala itu didapat dari amal seseorang, untuk dirinya. Tidak mungkin pahala dihadiahkan. Bahkan sebenarnya kita tidak tahu pasti bahwa amal yang kita lakukan mendapat pahala atau tidak. Jadi, bagaimana mungkin kita sudah GR menghadiahkannya untuk orang lain? Lalu, di mana posisi saya? Saya adalah pakar bukan-bukan. Saya bukan NU dan bukan Muhammadiyah. Saya tidak menganut paham pahala yang bisa dihadiahkaan. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli soal perhitungan pahala dan dosa. Satuannya juga tidak jelas kok. Saya beramal karena amal itu baik, bukan karena ada imbala pahala. Tapi saya bahagia kalau ada yang membacakan Fatiha u tuk Emak dan Ayah. Atau untuk orang-orang yang saya cintai. Iitu tandanya orang yang membacakan itu menghormati mereka, dan menghormati saya. Linnasi jamii'an saiun lillahi lahumul fatihah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...