Naskah dari Fiqhu al-Sirah karya Ramadhan Buthy di bawah ini artinya kurang lebih begini: Nabi SAW. terbukti memiliki kecerdasan dan kemampuan besar menengahi orang-orang yang berselisih, mereka yang tidak pernah bisa tidur nyenyak ketika bermusuhan dengan orang-orang lain, kecuali setelah bisa menumpahkan darah lawannya. sebagaimana Anda ketahui, setelah renovasi Ka'bah, terjadi perselisihan yang terus memanas hingga nyaris membuat mereka saling bunuh. saat itu, bani Abdu Dar mengeluarkan mangkuk berisi darah, mereka mengucapkan sumpah rela mati bersama Bani Ady, yang bersama-sama mencelupkan tangan mereka ke dalam mangkuk itu. kaum Quraisy bertahan dalam ketegangan selama empat atau lima hari tanpa satu pun keputusan yang diambil hingga akhirnya api perselisihan itu dipadamkan oleh Rasulullah SAW.
Ini adalah pelajaran baik bagi para pendakwah, ulama, atau siapa punlah yang merasa memiliki kewajiban untuk menjaga ketentraman dan keamanan di negara ini; agar menjadi solusi bagi permasalahan, bukan malah mengobok-obok air yang sudah keruh.
Disebutkan di dalam naskah ke2, bahwa hanya Muhammad bin Abdullah yang waktu itu disebut sebagai al-Amiin, karena semua orang mempercayai beliau. Disamping al-Amin, Nabi SAW. juga disebut sebagai al-mahbub atau orang yang disukai oleh semua orang. Semua orang tidak meragukan kejujuran Muhammad bin Abdullah sebelum diangkat menjadi seorang nabi.
Tetapi, orang yang terpercaya dan paling dicintai ini tiba-tiba menjadi orang yang paling dibenci dan dimusuhi saat menyampaikan kebenaran. Nah nah nah... Tidakkah kita semua sekarang ini seperti kaum2 Quraish, Bani Abdu Dar dan Bani Adi itu? Senengannya ribut untuk mempertengkarkan hal-hal yang oleh golongan tertentu dijadikan sebagai komoditas dan sarana meraup keuntungan.(Khoiron MA)


Komentar
Posting Komentar