Langsung ke konten utama

Naskah dari Fiqhu al-Sirah karya Ramadhan Buthy di bawah ini artinya kurang lebih begini: Nabi SAW. terbukti memiliki kecerdasan dan kemampuan besar menengahi orang-orang yang berselisih, mereka yang tidak pernah bisa tidur nyenyak ketika bermusuhan dengan orang-orang lain, kecuali setelah bisa menumpahkan darah lawannya. sebagaimana Anda ketahui, setelah renovasi Ka'bah, terjadi perselisihan yang terus memanas hingga nyaris membuat mereka saling bunuh. saat itu, bani Abdu Dar mengeluarkan mangkuk berisi darah, mereka mengucapkan sumpah rela mati bersama Bani Ady, yang bersama-sama mencelupkan tangan mereka ke dalam mangkuk itu. kaum Quraisy bertahan dalam ketegangan selama empat atau lima hari tanpa satu pun keputusan yang diambil hingga akhirnya api perselisihan itu dipadamkan oleh Rasulullah SAW.
Ini adalah pelajaran baik bagi para pendakwah, ulama, atau siapa punlah yang merasa memiliki kewajiban untuk menjaga ketentraman dan keamanan di negara ini; agar menjadi solusi bagi permasalahan, bukan malah mengobok-obok air yang sudah keruh.
Disebutkan di dalam naskah ke2, bahwa hanya Muhammad bin Abdullah yang waktu itu disebut sebagai al-Amiin, karena semua orang mempercayai beliau. Disamping al-Amin, Nabi SAW. juga disebut sebagai al-mahbub atau orang yang disukai oleh semua orang. Semua orang tidak meragukan kejujuran Muhammad bin Abdullah sebelum diangkat menjadi seorang nabi.
Tetapi, orang yang terpercaya dan paling dicintai ini tiba-tiba menjadi orang yang paling dibenci dan dimusuhi saat menyampaikan kebenaran. Nah nah nah... Tidakkah kita semua sekarang ini seperti kaum2 Quraish, Bani Abdu Dar dan Bani Adi itu? Senengannya ribut untuk mempertengkarkan hal-hal yang oleh golongan tertentu dijadikan sebagai komoditas dan sarana meraup keuntungan.(Khoiron MA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...