Ada qaul dari mbah Semar yang tidur-tiduran di pangkuan saya sambil
menunggu jumatan, "Men-qiyaskan tafsir itu adalah tafsir baru. Opo kamu
sangka para mufassir itu tidak mengenal qiyas atau terpikir menambahi
tafsirnya dengan qiyas kala itu? Lah wong tafsir al-Mizan yang memakai
metode rasional dan logika saja tidak menawarkan qiyasnya kok," kata
mbah Semar sambil ngupil. Rupanya mbah Semar sedang membahas Qs.
Al-Maidah 51 yang suka diqiyas2kan.
Saya jawab, "Mbah, dalam qiyas kan ada ashl, far', hukum ashl, dan
illat. Ya kalau berkata "hush" saja kepada orang-tua tidak boleh,
apalagi memukul mereka. Itu kan qiyas awlawi ya mbah. Karena illatnya
sama, yaitu menyakiti orang-tua. Tapi klo ashalnya dilarang bersekutu
untuk menghancurkan Islam dengan orang non-muslim, itu tidak bisa
dikatakan bahwa illatnya adalah sama dengan illat memilih pemimpin
non-muslim. Karena illatnya harus sama2 ingin menghancurkan Islam," kata
saya.
Lalu setelah shalat Jumat, mbah Semar berkata, "Lah yo, opo awakmu yakin semua jenis manuver politik itu tidak terkandung niat jahat ingin memanipulasi rakyat?" Katanya sambil memukul kakiku.
Sambil kutepuk pundaknya, saya bertanya, "Maksud mbah semua pilihan politik saat ini itu sangat terkait erat dengan perilaku politisi yang rata2 korup?" Tanyaku agak serius.
Eh mbah Semar malah ketawa kekel sambil berkata, "Lah yo, saiki semua memakai judul cinta rakyat. Lah apa ada pemimpin yang benar2 didukung rakyat dari pencalonan sampai jadi pemimpin? Tidak ada kan? Semua memakai modal yang tak sedikit. Lah itu modale sopo? Modale pengusaha. Lah terus pengusahae enthuk opo? Enthuk rakyat? Gyombal." Kata mbah Semar meledek.
"Mbah, ada loh, bu Risma itu konon tak memakai modal," Kataku.
Tapi saat itu mbah Semar sudah menghilang, padahal belum tak ajak makan siang. (Khoiron MA)
Lalu setelah shalat Jumat, mbah Semar berkata, "Lah yo, opo awakmu yakin semua jenis manuver politik itu tidak terkandung niat jahat ingin memanipulasi rakyat?" Katanya sambil memukul kakiku.
Sambil kutepuk pundaknya, saya bertanya, "Maksud mbah semua pilihan politik saat ini itu sangat terkait erat dengan perilaku politisi yang rata2 korup?" Tanyaku agak serius.
Eh mbah Semar malah ketawa kekel sambil berkata, "Lah yo, saiki semua memakai judul cinta rakyat. Lah apa ada pemimpin yang benar2 didukung rakyat dari pencalonan sampai jadi pemimpin? Tidak ada kan? Semua memakai modal yang tak sedikit. Lah itu modale sopo? Modale pengusaha. Lah terus pengusahae enthuk opo? Enthuk rakyat? Gyombal." Kata mbah Semar meledek.
"Mbah, ada loh, bu Risma itu konon tak memakai modal," Kataku.
Tapi saat itu mbah Semar sudah menghilang, padahal belum tak ajak makan siang. (Khoiron MA)
Komentar
Posting Komentar