Langsung ke konten utama

PEMILIH AHOK MUNAFIK?

Ini untuk yang sedang ribut2 mayat pendukung Ahok tidak dishalati. Sebenarnya Qs. Al-Nisa 138-139 tidak berbicara mengenai kepemimpinan. Kata wali di situ tak ada satu ulama pun, baik sunni maupun syiah, yang menerjemahkan dgn pemimpin. Tidak pula bisa diqiyas awlawikan dgn qiyas seperti ini: "menjadi teman setia saja tidak boleh apalagi menjadi pemimpin". Karena melakukan qiyas kepada tafsir adalah tafsir baru. Itu seolah2 kita mengatakan bahwa para ulama tafsir tidak mengerti qiyas. Dalam qiyas ada rukunnya: 1. Ashl, 2. Far', 3. Hukum ashl, 4. Illah. Misalkan, mengqiyaskan hukum memukul orangtua yang tidak ada di dalam al-Quran dgn hukum berkata "hush". Nah ini qiyasnya bisa begini: berkata hush saja tidak boleh apalagi memukul. Illatnya sama: yaitu sama2 menyakiti orangtua. Tapi hukum memilih teman setia nonmuslim utk menghancurkan Islam tidak bisa secara serampangan diqiyaskan dgn memilih pemimpin non muslim. Karena illatnya harus sama, yaitu bersekongkol ingin menghancurkan Islam. Kecuali Ahok sudah jelas ingin menghancurkan Islam dgn bukti ilmiah, maka illatnya bisa dikatakan sama. Dan hukum munafik atas pemilihnya boleh diterapkan. Jika tidak, maka tidak.



Ada teman bertanya tentang tafsir Qs. Al-Nisa 138-139. Ayat ini adalah kembaran dari Qs. Al-Maidah 51 yang heboh itu. Kalau saya mengkritik Ahok lalu para pemujanya mencak-mencak, kira-kira kalau saya ungkapkan tafsirnya saya diapain ya? Ah sutralah, mungkin memang sudah waktunya kebenaran versi kitab-kitab tafsir ini saya ungkapkan.
Arti dari al-Nisa 138-139 kurang lebih seperti ini:
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
Al-Thabari, mengutip riwayat Abu Ja’far, bahwa awliya’ di sini berarti anshār (penolong), dan akhillā’ (kekasih) selain orang mukmin. Artinya, ini ayat bukanlah berbicara mengenai kepemimpinan. Menurut Abu Ja’far, dilarangnya memiliki penolong dan kekasih dari non muslim itu jika orang muslim menginginkan kemuliaan, harta, dan pertolongan lainnya. Orang-orang muslim seperti ini disebut adzillā’ (orang-orang hina), dan aqillā’ (orang-orang tak tahu malu).
Tetapi, Ismail Ibnu Kathir dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Imam al-Qurthubi dalam Tafsir al-Qurthubi memperjelas posisi ayat penolong atau kekasih di dalam ayat ini, bahwa orang-orang Islam itu tidak saja menganggap orang-orang non muslim sebagai penolong dan kekasih, tetapi mereka menertawakan orang-orang Islam bersama penolong dan kekasihnya itu. Mereka bukan saja berkawan, tetapi menjadi musuh dalam selimut bagi perjuangan ummat Islam.
Dalam istilah al-Qurthubi, penolong dan kekasih itu diartikan sebagai kawan-kawan yang saling membantu dalam pekerjaan yang terkait erat dengan agama (a’wānan ‘ala al-a’amāl al-muta’alliqah bi al-dīn). Tujuannya tidak lain hanyalah mendapatkan materi, pangkat, jabatan, dan kemuliaan. Mereka itulah, menurut Tafsir al-Thantawi, yang disebut sebagai orang munafiq.
Jadi, apa hubungannya dengan pilkada DKI, dimana ada Ahok di dalamnya, yang notabene non-muslim? Saya tidak mengerti, apakah orang-oranv Islam yang mendukung Ahok itu ada yang berharap mendapatkan keuntungan materi dan jabatan dari Ahok? Apakah orang-orang Islam yang mendukung Ahok itu ada yang ingin menghancurkan Islam via dukungannya kepada Ahok? Yang saya ketahui adalah bahwa sistem pemerintahan sekarang ini tidaklah terpusat kepada Gubernur semata, karena Gubernur harus bekerjasama dengan para penguasa lainnya, seperti DPRD, karena Gubernur menyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD provinsi. Gubernur pun tak bisa mengatur Polda, Kodam, dan KPK. Artinya, Gubernur bukanlah penguasa tunggal yang berkuasa atas segala hal si propinsi, karena dia juga harus tunduk kepada segala aturan dan Undang-Undang yang berlaku. Meskipun saya agak kecewa dengan lolosnya Ahok–juga Foke tentunya–melaksanakan reklamasi sebelum memenuhi aturan-aturan yang berlaku.
Jika pun term munafik itu berlaku dalam pilkada ini, mestinya, menurut qaidah fiqhiyah, kita tak bisa menghukumi apapun berdasarkan dugaan-dugaan dan prasangka. Tapi dalam Fiqh Awlawiyyāt, setiap individu harus mendahulukan kepentingam agama daripada kepentingan jiwa, keluarga, akal dan harta benda. Anda2 sendirilah yang mengetahui, apakah memilih Ahok menguntungkan Islam atau merugikannya? Saya tidak mengetahuinya, karena ini sungguh urusan politik, yang kenyatannya tidak seperti permukaannya.(Khoiron MA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...