Langsung ke konten utama

INI LHO QIYAS AWLA

Ngene lho rek. Saya ini, biarpun saya sudah hatam Ushul Fiqih al-Risālah dan Abu Zahrah, misalnya, ini cuma misalnya, tapi karena saya ini bukan ustadz, ya anggaplah saya ini cuma khatam ushul fiqih Abdul Wahab Klahaf, alias ora ngerti opo2. Lak wes toh?
Makanya, aslinya, saya itu mau cuek saja; siapa kek yang tidak mengerti tentang qiyas, memangnya kewajiban saya apa di sini, lah wong saya nulis nganti methentheng yo ora enthuk opo2. Bapakmu bukan, opo maneh budhemu. Ngono lho kok repot.
Tapi, ini saya mau terangkan sedikit mengenai qiyas atau yang biasa disebut sebagai analogi.
Qiyas itu ada yang dinamakan sebagai Qiyas Aula. Qiyas ini sering dicontohkan begini: memilih orang kafir sebagai teman setia saja tidak boleh, apalagi memilih mereka sebagai pemimpin. Qiyas ini disebut sebagai Awla karena hukumnya pada furu’ lebih kuat daripada hukum ashal. Kenapa? Karena illat yang terdapat pada furu’ lebih kuat dari yang ada pada ashal. Seperti meng-qiyaskan perbuatan memukul orang-tua kepada kata-kata "hush" kepada ibu-Bapak. Illatnya apa? Illatnya adalah menyakiti orang-tua. Pada gilirannya, ini disebut qiyas jali, karena illatnya sangat jelas.
Sampai sini pasti bingung kan? Lah ya lah wong saya belum menerangkan rukun2 Qiyas. Wkwkwkwk
Begini, rukun qiyas itu ada empat: 1. Ashal (اصل), yaitu starting point di mana masalah dapat disamakan (diqiyaskan) kepadanya.
Contohnya qs. Almaidah 51. Semua ulama berpendapat bahwa kata wali di sana adalah sekutu atau teman bersekongkol untuk menghancurkan Islam. Kesepakatan penafsiran dari ayat ini bahwa wali di dalam ayat ini ditafsirkan sebagai "sekutu" menjadi asalnya. Asalnya apa? Asalnya adalah bahwa Muslim dilarang bersekutu dengan orang non-muslim untuk menghancurkan Islam.
Ke2 adalah Fara' (فرع) atau cabang. Pilkada DKI yang memanas ini membuat ada golonga kita yang ingin memunculkan Fara' dari asal tadi: yaitu memilih pemimpin non muslim.
Ketiga adalah hukum ashal. Apa hukum ashalnya? Yaiti haram melakukan persekongkolan dengan orang nonmuslim untuk menghancurkan Islam. Hukum Ashal ini adalah yang ditetapkan berdasarkan nash (dalam hal ini almaidah 51), dan hukum itu pula yang akan ditetapkan pada fara' seandainya ada persamaan 'illatnya.
Ke4 adalah illat. Illat adalah sifat yang ada pada ashal yang akan dicari pada fara'. Seandainya sifat ada pula pada fara', maka persamaan sifat itu menjadi dasar untuk menetapkan hukum fara' sama dengan hukum ashal.
Nah, kesimpulannya adalah bahwa jika hukum haramnya melakukan persekongkolan dengan non-muslim untuk menghancurkan Islam itu hendak disamakan dengan hukum memilih pemimpin non-muslim, maka illatnya harus sama: yaitu persekongkolan untuk menghancurkan Islam. Jika illatnya Anda anggap sama, yaitu memilih pemimpin non-muslim itu adalah persekongkolan untuk menghancurkan Islam, ya berarti haram memilih pemimpin non-muslim. Jika Anda anggap tidak sama, ya berarti tidak haram memilih pemimpin non-muslim.
Tapi celakanya, fiqih Islam tidak menerima anggapan-anggapan. Hukum haram atau halal tidak berdasarkan persangkaan.
Disamping Qiyas Awla, ada juga qiyas musawa, qiyas adna, qiyas jaly, qiyas khafi, dst. Lak wes toh? (khoiron MA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...