Langsung ke konten utama

IBNU BAYYAH TENTANG KHILAFAH DAN HUKUM SEKULER

Menurut Syaikh Ibnu Bayyah dalam makalah yang disampaikan di Majalah Emirat dengan Tajuk Shahifah al-Imārat al-Yawm oleh Yasir Harib, issue membuat negara Khilafah itu sesuatu yang mengada2.
Ibnu Bayyah mengatakan bahwa dengan bersyahadat saja orang sudah menjadi Islam dalam kaitan dirinya sebagai mukallaf. Term "keluar dari Islam" itu berkaitan dengan setiap orang sebagai individu. Artinya, hukum itu tak melingkupi semua manusia tetapi setiap individu. Sedangkan praktik atau pelaksanaan hukum Islam bagi setiap individu itu bertalian dgn kaidah: mengingkari hukum2 yang diketahui dengan sangat mudah: المعلوم من الدين بالضرورة
Sedangkan kaidah al-ma'lūm min al-dīn bi al-dharūrah itu berbeda sesuai dengan perbedaan manusia dalam hal budaya dan ta'wil mereka atas nash2 agama. Oleh karena itu, bahkan jika orang mengingkari hukum2 yang al-ma'lum bi al-dharurah tadi pun sulit dicabut keislamannya, karena hukum syariah itu satu hal, dan pelaksanaannya adalah hal yang lain lagi.
Menurut Ibnu Bayyah, bahkan jika pun negara menerapkan Syariah Islam tak berarti negara itu benar2 menerapkan syariah Islam tanpa menjaga kondisi (dhurūf), sebab2 (asbāb), dan penghalang2 (mawāni'); maksudnya tanpa me-maintan kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Gampangannya: berbicara syariah jangan ngomong masalah hukumannya saja, tp juga perangkat keadilan dan kesejahteraan rakyat menurut Islam juga. Dan dalam konsep ini, benar, bahkan negara yang menganut syariah Islam saja blm tentu menerapkan syariah itu sendiri.
Term khalifah itu--walaupun terdapat pada sunnah--hanyalah siyāq madlūlah al-lughawiyyah (konteks kebahasaan) saja, bukan masalah ta'abbudiyyah, juga bukan hal yg absolut dalam syariah Islam. Ada dalilnya tidak? Oh ya ada. Dalilnya adalah wasiat Nabi SAW kepada seorang panglimanya.
وإذا حاصرت أهل حصن فأرادوك أن تنزلهم على حكم الله فلا تنزلهم على حكم الله، ولكن أنزلهم على حكمك، فإنك لا تدري أتصيب حكم الله فيهم أم لا
‘’Jika engkau mengepung suatu benteng, lalu penghuni benteng tersebut meminta agar kamu memperlakukan mereka sesuai dengan hukum Allah maka janganlah kamu memperlakukan mereka dengan hukum Allah. Akan tetapi perlakukanlah mereka sesuai dengan hukummu, karena kamu tidak tahu apakah kamu tepat dalam memperlakukan mereka sesuai dengan hukum Allah atau tidak.” (Hadits riwayat Muslim dan lainnya dari hadits Buraidah bin Al Hushaib)
يحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِّنكُمْ almaidah 95
فابعثوا حكمًا من أهله وحكمًا من أهلها
"Maka kirimlah seorang hakim dari keluarga laki-laki dan seorang hakim dari keluarga perempuan." (Annisa 35)
1 hadis dan 2 ayat ini, menurut Ibnu Bayyah, adalah dalil bahwa agama membuka seluas2nya pada ikut campurnya akal pikiran jika menyangkut urusan manusia dan kemaslahatannya.
Nabi Muhammad SAW. menghormati Negus yang masuk Islam dan menyalatinya secara ghaib. Nabi SAW tidak menuntut Negus untuk berhijrah dan membaiat Nabi SAW. Ini juga isyarat adanya hakim2 sekuler untuk masyarakat muslim mengenai keperluan hidupnya sendiri. Negus tidak dihukumi kafir atau bid'ah karena tidak melaksanakan hukum negara berdasarkan syariat Islam.(Khoiron MA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...