Langsung ke konten utama

Memilih pemimpin tak seagama

Seorang teman bertanya tentang dalil memilih pemimpin dalam pilkada yang berkenaan dengan calon non se-agama.
Saya jawab begini: jika incumbent-nya baik, maka dalilnya adalah kaidah fiqih awlawiyyāt (fiqih prioritas) yang berbunyi begini:
تقدم المصلحة المتيقنة من المصلحة المظنونة
Kemaslahatan yang sudah jelas dimenangkan atas kemaslahatan yang baru berupa praduga atau janji2.
Ada juga kaidah kelanjutannya:
لا تترك المصلحة المتيقنة على المفسدة الموهومة
Kemalasahatan yang sudah jelas tidak boleh ditinggalkan karena kerusakan yang belum terbukti atau baru praduga saja.
Jika calon incumbent-nya buruk, maka dalilnya adalah:
الضرر يزال بقدر الإمكان
Bahaya sebisa mungkin harus disingkirkan.
Selamat memilih. Dan ingat selalu, pilkada itu hanya urusan politik, tak ada kaitannya dengan agama. Kalaupun ada kaitannya, ya itu dikait-kaitkan saja. Bohong adalah senjata utama politik. Menyerang lawan demi kemenangan juga kebiasaan politik. Politik hanya soal kekuasaan, lain tidak. Partai-partai Islam pernah mendukung calon non muslim yaitu pada saat terjadi deal. Jika tidak terjadi deal, maka partai-partai yang sama akan memakai dalil agama untuk mengharamkan calon non muslim. It's about power and money, nothing else. Namun begitu, pilihlah yang menurut Anda paling sedikit keburukannya.(Khoiron MA)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...