Langsung ke konten utama

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu hanya sebentar. Yaitu sebelum Perang Badar. Begitu menang di perang itu, nabi Muhammad sudah mulai berdiri tegak, menantang kaum Yahudi di sekitar Madinah. Setelah itu memang mereka masih diperangi, tapi pada akhirnya merekalah yang melancarkan perang ofensif, terhadap Bani Quraiza, Khaibar, menaklukkan Mekkah, menyerbur Mu'ta, dan sebagainya. Di masa khulafaurrasyidin lebih-lebih lagi. Kekuasaan sudah melebar sampai ke Syam, Persia, Mesir, serta Palestina. Pada masa Umayyah bahkan sampai menjangkau Eropa. Ini bukan lagi masa di mana orang menyerang umat Islam karena ingin menghancurkannya sebagai kelompok yang lemah. Ini adalah masa di mana pihak lain bertahan dari gempuran kekuasaan yang sangat besar, bertahan agar mereka tak ditaklukkan atau dihancurkan. Ini bukan masa di mana orang bersiasat untuk menghancurkan Islam, tapi semata agar diri mereka tak punah. Masa berlalu, kekaisaran Islam jatuh bangun, sebagaimana peradaban lain. Peradaban lain berperang dan diperangi. Ada Bizantium, Mongol, dan sebagainya. Mereka biasa saja. Anak cucu mereka kelak santai saja menerima sejarah itu, sebagai kelaziman orang-orang di masa lalu. Mulai abad pertengahan orang-orang Eropa melakukan penjelajahan samudra. Mereka menaklukkan berbagai tempat. Lagi-lagi itu disebut sebagai upaya untuk meruntuhkan Islam. Padahal mereka menjelajah, kemudian menjajah sampai ke benua Amerika, yang belum pernah diinjak orang Islam. Padahal pula, kekuasaan Turki yang beragama Islam juga meluas dari Eropa, Asia Tengah, sampai Afrika. Orang sibuk berkelana, melakukan penaklukan, mencari sumber daya. Dalam pikiran mereka, emas, emas, dan emas. Kelak itu berubah jadi minyak dan sumber energi. Tapi orang Islam tetap memandang itu sebagai ancaman terhadap Islam. Seakan orang-orang itu peduli benar terhadap agama. Tidak. Yang baper itu cuma orang-orang Islam. Pihak lain memandangnya sebagai kegiatan ekonomi politik belaka. Itu bagian dari nafsu manusia yang ingin berkuasa. Berkuasa atas wilayah, sumber daya alam, dan atas manusia. Agama bagi mereka tak penting benar. Kecuali bila hal itu mengancam hidup mereka. Jadi, siapa itu musuh Islam? Tidak ada. Yang ada hanyalah orang yang memusuhi siapa saja yang berbeda kepentingan dengan mereka, tak peduli apa identitas agamanya. Makanya, konflik regional maupun internasional itu sering menjadi rumit, karena kepentingan sering berubah. Maka suatu pihak sering berubah kutubnya. Atau menganut dua atau lebih kutub pada suatu saat yang sama. Itu jadi sangat rumit bila kita melihatnya dalam kaca mata agama tadi. Tidak nyambung. Saran saya, berhentilah berpikiran seperti manusia abad ke VII. Karena ini sudah abad XXI. Berhentilah merengek sebagai korban yang dizalimi dan diancam. Dalam banyak kasus justru pihak Islam lah yang mengancam, bahkan zalim. Sadari itu, dan koreksilah diri kita

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...