Langsung ke konten utama

Yang Menghidupkan Hidup

Ada anak orang kaya. Mereka dari kecil sudah kaya. Sampai besar dan dewasa, mereka tetap kaya. Bahkan tambah kaya. Lalu kita lihat diri kita. Kita tidak kaya sejak kecil. Hidup begini-begini saja, tidak ada perubahan. Kita ditakdirkan untuk hidup seperti ini. Hidup sepertinya diikat oleh takdir. Kita bukan pengendali hidup kita. Hidup kita ditentukan oleh banyak faktor. Di keluarga mana kita lahir. Siapa saja yang ada di sekitar kita. Dengan siapa saja kita bertemu dan bergaul. Kebetulan apa saja yang pernah kita dapatkan dan menguntungkan kita. Pendek kata, kita ini makhluk tak berdaya dalam lautan takdir. Benarkah? Sebenarnya kita perlu melihat hidup dengan lebih lengkap. Ada anak orang kaya, dan tetap kaya, bahkan jadi lebih kaya. Tapi ada banyak juga anak orang kaya yang jatuh miskin semiskin-miskinnya. Saya pernah menyaksikan sendiri, anak orang kaya, yang harta orang tuanya saya kira tak akan habis untuk beberapa keturunan. Tapi akhirnya saya menyaksikan anak tadi meninggal sebagai orang miskin. Sebaliknya, ada begitu banyak anak orang miskin yang kemudian menjadi kaya raya. Atau, tadinya anak orang biasa, yang berubah jadi kaya raya. Mari kita ambil contoh yang sangat terkenal, Bill Gates. Siapa dia? Dia bukan anak orang miskin. Bapaknya pengacara. Tapi orang tuanya bukan orang yang masuk dalam daftar orang terkaya dunia. Bill Gates sendiri yang memasukkan dirinya ke daftar itu. Sebenarnya ini bukan sekadar soal kaya miskin. Kita sebenarnya tak perlu peduli soal kekayaan Bill Gates, karena juga tak mempengaruhi hidup kita. Tapi siapa dari kita yang tak pernah bersentuhan dengan produk Microsoft, perusahaan yang didirikan Bill Gates? Ada milyaran penduduk dunia pernah memakainya. Apa yang membuat Bill Gates menjadi seperti itu? Ada keluarga yang mendidiknya. Ada pula guru-guru dia, teman-teman dia, lingkungannya. Tapi kenapa hanya Bill Gates yang jadi seperti itu, tidak semua orang di lingkungan itu? Karena faktor terbesar dari sukses Bill Gates, ada di tangannya sediri. Sama halnya, anak-anak orang kaya yang saya sebut di awal tulisan ini, juga demikian. Yang bisa bertahan tetap kaya, atau menjadi lebih kaya, adalah yang melakukan sesuatu. Yang salah dalam menjalankan hidup, akan terjerembab. Ya, demikian pula dengan saya dan Anda. Sukses atau terjerembab, ditentukan oleh tangan kita sendiri. Saya tahu, akan banyak orang yang mencoba membantah ini. Banyak orang percaya bahwa sukses itu adalah hasil dari berbagai kebetulan yang ada di sekitar kita. Baiklah. Kalau itu yang Anda harapkan, silakan tunggu kebetulan-kebetulan itu. Kalau Anda tidak mau menunggu, maka kita harus bergerak. Kita tak boleh lagi menunggu kebetulan-kebetulan. Kita harus bergerak, membuat berbagai kesempatan datang kepada kita. Di suatu kuliah saya di kampus, saya bicara tentang pentingnya penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Saya tekankan bahwa kunci penguasaan bahasa itu adalah memakainya dalam keseharian. Saya contohkan bagaimana para santri di Gontor, yang umumnya mahir berbahasa Inggris dan Arab, karena mereka setiap hari menggunakannya. Seorang mahasiswa berkomentar. Menurut dia, lingkunganlah yang membuat anak-anak di Gontor itu menjadi mahir. Yang tidak berada di lingkungan itu, tidak akan mahir. Bagi dia, orang harus berada di lingkungan yang memaksa, untuk bisa melakukan sesuatu. Saya ingatkan dia bahwa para santri itu berada di Gontor bukan kebetulan. Mereka ingin berada di sana, karena memang ingin bisa. Mereka tidak dipaksa. Mereka punya tujuan, lalu mereka pergi ke Gontor. Tidak hanya itu. Perjanjian untuk selalu pakai bahasa Inggris dan Arab itu adalah sebuah komitmen. Yang memaksa bukan orang lain, tapi santri yang mengikatkan diri pada komitmen itu. Nah, para mahasiswa di kelas saya tadi, yang tidak berada di Gontor, sebenarnya tinggal membuat komitmen yang sama. Mereka bisa bersepakat untuk bersama berbicara dalam bahasa Inggris. Yang melanggar dikenai sanksi, misalnya denda. Maka mereka akan mendapatkan lingkungan yang persis sama seperti Gontor. Itulah contoh bagaimana perbedaan cara berpikir yang secara fundamental menentukan seseorang akan sukses atau tidak. Ada orang-orang yang menganggap hidup ini ditentukan oleh berbagai faktor di luar dia. Singkat kata, ia menyerahkan kemudi kehidupannya kepada pihak lain. Atau, ia menyerahkan remote control kehidupannya kepada pihak lain. Tidak. Jangan lakukan itu. Rebut kendali itu. Rebut kemudi atau remote control itu, kendalikan hidup dan nasib Anda sendiri. Tapi bukankah lingkungan juga berpengaruh pada hidup kita? Ya, lingkungan berpengaruh. Tapi, bagaimana pengaruh lingkungan terhadap diri kita, lagi-lagi tetap tergantung pada bagaimana kita bersikap. Saat Anda tercemplung di tengah laut, Anda berada pada suatu lingkungan. Apakah Anda akan mati tenggelam atau selamat, sangat tergantung pada bagaimana Anda bersikap saat itu. Ringkasnya, jangan berfokus pada lingkungan, karena ia berada di luar kontrol kita. Fokuslah pada bagaimana kita bersikap terhadap lingkungan. Dalam hal itu, kita sepenuhnya memegang kendali

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...