Saya jadi teringat Habibie. Tahun 1999, segala sesuatu yang terkait Soeharto, pasti salah. Habibie adalah anak kesayangan Soeharto, jadi ia pasti salah. Meski ia membuka lebar-lebar keran kebebasan dan demokrasi. Meski ia menghormati hak azasi manusia. Meski ia memperbaiki ekonomi.
Itu adalah masa pokoknya. Pokoknya Habibie tak boleh berkuasa. Saat ia masuk ke ruang sidang di Gedung DPR dan MPR, ia disoraki dengan seruan "huuuuu". Tapi Habibie masuk dengan senyum anggun seorang kepala negara.
Laporan pertanggung jawaban Habibie ditolak. Isinya tak penting lagi. Habibie tak harus mempertanggung jawabkan masa ia memerintah sebagai presiden. Ia harus mempertanggung jawabkan puluhan tahun masa yang ia habiskan bersama Soeharto. Ia bahkan harus mempertanggung jawabkan seluruh masa pemerintahan Soeharto.
Baiklah, kata Habibie. Wakil rakyat tak lagi menghendakiku. Maka ia melangkah mundur. Ia legawa, mundur dari kekuasaan. Ia tak membuat manuver. Ia tak membuat sandiwara, memberi tahu dunia bahwa ia sedang dizalimi. Ia pun tak mengerahkan massa untuk memberi dukungan. Ia mundur dengan legawa.
Lihatlah Habibie kini. Ia seorang Bapak Bangsa yang dicinta. Ia selalu hadir menebar senyum. Orang-orang membalasnya dengan senyum.
Habibie bukan orang yang sempurna. Tapi ia mengajarkan satu hal penting, bahwa hidup bukan semata untuk mengejar kuasa
Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...
Komentar
Posting Komentar