Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan
ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha
Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah
seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya.
Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam
sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat
dengan Allah.
Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu.
Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya setiap mukmin mengingatkannya. Pada tararan yang lebih eksplisit adalah jika ada seorang mukmin yang melakukan kesalahan, hendaknya mukmin yang lain menjadi cerminnya, agar mukmin yang berbuat kesalahan itu mengerti bahwasannya dia telah berbuat kesalahan. Tentu saja, konsep salah dan benar itu sudah ada pakemnya di dalam Islam, baik dari norma fiqih, tauhid, akhlak, manthiq, maupun sirah. Jadi kesalahannya adalah kesalahan fatal yang oleh pengertian-pengertian norma itu disalahkan. Juga mengingatkannya adalah dalam kerangka membenarkan, bukan menyalahkan atau berdebat kusir. Tidak ketinggalan bahwa konsep saling menasehati atau saling mengingatkan ini tentu dalam frame manusiawi, bahwa kadangkala setelah berakting menjadi cermin, alias mengklarifikasi, orang yang dibenarkan bisa jadi ternyata sedang melaksanakan kebenaran dalam arti yang lain. Itulah gunanya cermin.
Pada tahapan ini tentu ini adalah pengertian menjadi mukmin itu seperti apa. Mungkin jika hendak dikatakan makna mukhalafahnya adalah bahwa seseorang tidak dikatakan seorang mukmin jika tidak saling mengingatkan; seseorang tidak dikatakan sebagai seorang mukmin jika membiarkan saudaranya berada pada kesalahan yang terus-menerus. Pertanyaannya adalah bagaimana nasib para pengkhutbah dan dai yang hanya membicarakan hal-hal yang normatif, bukannya kesalahan-kesalahan para audience-nya? Wallahu A’lam.
Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu.
Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya setiap mukmin mengingatkannya. Pada tararan yang lebih eksplisit adalah jika ada seorang mukmin yang melakukan kesalahan, hendaknya mukmin yang lain menjadi cerminnya, agar mukmin yang berbuat kesalahan itu mengerti bahwasannya dia telah berbuat kesalahan. Tentu saja, konsep salah dan benar itu sudah ada pakemnya di dalam Islam, baik dari norma fiqih, tauhid, akhlak, manthiq, maupun sirah. Jadi kesalahannya adalah kesalahan fatal yang oleh pengertian-pengertian norma itu disalahkan. Juga mengingatkannya adalah dalam kerangka membenarkan, bukan menyalahkan atau berdebat kusir. Tidak ketinggalan bahwa konsep saling menasehati atau saling mengingatkan ini tentu dalam frame manusiawi, bahwa kadangkala setelah berakting menjadi cermin, alias mengklarifikasi, orang yang dibenarkan bisa jadi ternyata sedang melaksanakan kebenaran dalam arti yang lain. Itulah gunanya cermin.
Pada tahapan ini tentu ini adalah pengertian menjadi mukmin itu seperti apa. Mungkin jika hendak dikatakan makna mukhalafahnya adalah bahwa seseorang tidak dikatakan seorang mukmin jika tidak saling mengingatkan; seseorang tidak dikatakan sebagai seorang mukmin jika membiarkan saudaranya berada pada kesalahan yang terus-menerus. Pertanyaannya adalah bagaimana nasib para pengkhutbah dan dai yang hanya membicarakan hal-hal yang normatif, bukannya kesalahan-kesalahan para audience-nya? Wallahu A’lam.
Komentar
Posting Komentar