Apapun sikap ataupun opini anda bisa menjadi suatu dogma. Dogma
terbentuk ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengakui bahwa ada
suatu kebenaran lain di luar apa yang dipercaya sebagai suatu
kebenaran.
Apabila seseorang percaya bahwa bumi itu datar, dan tidak percaya dengan bukti yang ada bahwa bumi itu bulat maka orang tersebut disebut dogmatik.
Apabila seseorang percaya bahwa bumi itu datar, dan tidak percaya dengan bukti yang ada bahwa bumi itu bulat maka orang tersebut disebut dogmatik.
Dari
contoh itu kita juga bisa melihat sisi gelap dari dogma terhadap
manusia. Yakni, dogma menimbulkan sikap untuk tidak mau mendengarkan
orang lain. Padahal mendengarkan adalah kunci utama bagi seorang manusia
untuk berinteraksi dengan manusia lain.
Tentu saja ada kemungkinan bahwa pembicaraan tetap terjadi. Namun pembicaraan yang terjadi akan berlangsung secara artificial, basa - basi, tidak tulus, karena hilangnya kesediaan untuk mendengarkan pendapat yang berbeda.
Dogma di negara yang maju tingkat pengetahuan masyarakatnya bisa menjadi alat yang berbahaya di dalam masyarakat karena cara bekerjanya yang tidak kelihatan. Di negara yang tingkat pengetahuannya masih rendah, dogma relatif terlihat dan dirasakan lebih nyata, apalagi kalau terjadi dalam suatu lingkup mayoritas.
Bahaya dari dogma di dalam masyarakat adalah mendorong masyarakat untuk berpihak secara extreme, yakni apakah seseorang itu akan berpihak pada dogma, atau berdiri di pihak counter dogma. Maka kalau sudah begini, kita akan tahu mengapa bermain - main dengan dogma di masyarakat itu akan menimbulkan potensi konflik, perpecahan, bahkan suatu permusuhan.
Sebagai orang terpelajar dan pernah mempunyai visi tenun kebangsaan tentu Anies mengetahui hal itu. Tetapi sebagai seorang individu yang percaya pada suatu dogma, Ia tidak bodoh untuk tidak menjadikan hal itu sebagai amunisi kemenangan. Dampaknya sudah terasa: kini setiap hari tak henti - hentinya kita ribut. Bukan ribut karena membicarakan program. Karena di tataran dogma program itu sudah tidak perlu dan penting lagi.
Tentu saja ada kemungkinan bahwa pembicaraan tetap terjadi. Namun pembicaraan yang terjadi akan berlangsung secara artificial, basa - basi, tidak tulus, karena hilangnya kesediaan untuk mendengarkan pendapat yang berbeda.
Dogma di negara yang maju tingkat pengetahuan masyarakatnya bisa menjadi alat yang berbahaya di dalam masyarakat karena cara bekerjanya yang tidak kelihatan. Di negara yang tingkat pengetahuannya masih rendah, dogma relatif terlihat dan dirasakan lebih nyata, apalagi kalau terjadi dalam suatu lingkup mayoritas.
Bahaya dari dogma di dalam masyarakat adalah mendorong masyarakat untuk berpihak secara extreme, yakni apakah seseorang itu akan berpihak pada dogma, atau berdiri di pihak counter dogma. Maka kalau sudah begini, kita akan tahu mengapa bermain - main dengan dogma di masyarakat itu akan menimbulkan potensi konflik, perpecahan, bahkan suatu permusuhan.
Sebagai orang terpelajar dan pernah mempunyai visi tenun kebangsaan tentu Anies mengetahui hal itu. Tetapi sebagai seorang individu yang percaya pada suatu dogma, Ia tidak bodoh untuk tidak menjadikan hal itu sebagai amunisi kemenangan. Dampaknya sudah terasa: kini setiap hari tak henti - hentinya kita ribut. Bukan ribut karena membicarakan program. Karena di tataran dogma program itu sudah tidak perlu dan penting lagi.
Komentar
Posting Komentar