Langsung ke konten utama

BNK ; Dogma

Apapun sikap ataupun opini anda bisa menjadi suatu dogma. Dogma terbentuk ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk mengakui bahwa ada suatu kebenaran lain di luar apa yang dipercaya sebagai suatu kebenaran.
Apabila seseorang percaya bahwa bumi itu datar, dan tidak percaya dengan bukti yang ada bahwa bumi itu bulat maka orang tersebut disebut dogmatik.
Dari contoh itu kita juga bisa melihat sisi gelap dari dogma terhadap manusia. Yakni, dogma menimbulkan sikap untuk tidak mau mendengarkan orang lain. Padahal mendengarkan adalah kunci utama bagi seorang manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain.
Tentu saja ada kemungkinan bahwa pembicaraan tetap terjadi. Namun pembicaraan yang terjadi akan berlangsung secara artificial, basa - basi, tidak tulus, karena hilangnya kesediaan untuk mendengarkan pendapat yang berbeda.
Dogma di negara yang maju tingkat pengetahuan masyarakatnya bisa menjadi alat yang berbahaya di dalam masyarakat karena cara bekerjanya yang tidak kelihatan. Di negara yang tingkat pengetahuannya masih rendah, dogma relatif terlihat dan dirasakan lebih nyata, apalagi kalau terjadi dalam suatu lingkup mayoritas.
Bahaya dari dogma di dalam masyarakat adalah mendorong masyarakat untuk berpihak secara extreme, yakni apakah seseorang itu akan berpihak pada dogma, atau berdiri di pihak counter dogma. Maka kalau sudah begini, kita akan tahu mengapa bermain - main dengan dogma di masyarakat itu akan menimbulkan potensi konflik, perpecahan, bahkan suatu permusuhan.
Sebagai orang terpelajar dan pernah mempunyai visi tenun kebangsaan tentu Anies mengetahui hal itu. Tetapi sebagai seorang individu yang percaya pada suatu dogma, Ia tidak bodoh untuk tidak menjadikan hal itu sebagai amunisi kemenangan. Dampaknya sudah terasa: kini setiap hari tak henti - hentinya kita ribut. Bukan ribut karena membicarakan program. Karena di tataran dogma program itu sudah tidak perlu dan penting lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AL-MUKMINU MIR’ATUL MUKMIN

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengartikan hadis dalam judul tulisan ini adalah bahwa orang mukmin itu adalah cermin dari Allah Yang Maha Pemberi rasa aman. Maksudnya adalah bahwa jika ingin melihat apakah seseorang itu dekat dengan Allah atau tidak, maka lihatlah perilakunya. Jika perilakunya dalam tataran tertentu itu seperti Allah dalam sifat-sifat yang boleh dimiliki oleh manusia, maka manusia itu dekat dengan Allah. Sifat-sifat itu adalah seperti Pengasih, Penyayang, Penyabar, Penyantun, Pemurah, Memberikan rahmat, Menyebarkan kedamaian, Menyenangkan makhluk lain, Kreatif, Lembut, Memberi/membagi rizki, Pemaaf, Menolong, Memberi penghargaan, Mencintai, Mengayomi, dan Mendidik/mengajarkan ilmu. Sedangkan Maulana Jalaluddin Rumi mengartikan hadis al-Mukminu Mir’atul Mukmin itu adalah bahwa seorang mukmin itu adalah cermin bagi mukmin yang lain. Jika ada orang mukmin yang beruat buruk, maka keburukannya adalah keburukan kita juga. Dengan cara tertentu seharusnya seti...

Sejarah Babi di Arab dan Timur Tengah (6)

Ini kelanjutan "kuliah virtual" tentang "Bab Perbabian" yang sudah cukup lama terlupakan. Dalam berbagai kuliah virtualku sebelumnya, saya sudah menguraikan panjang lebar tentang sejarah timbul dan tenggelamnya makhluk bernama babi (baik "babi liar" maupun "babi domesik") di kawasan Arab dan Timur Tengah pada umumnya. Silakan buka-buka sendiri file tentang ini, jika berminat. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, ada banyak teori dan pandangan tentang kenapa babi musnah di sebagian besar wilayah di Timur Tengah (di sebagian wilayah Turki, Libanon, Iran, dan Aljazair masih bisa dijumpai hewan babi ini). Pula, sudah saya jelaskan, larangan terhadap babi ini bukan hanya dilaukan oleh suku-suku Israel kuno (Israelite) saja tetapi juga oleh suku-suku lain yang mendiami kawasan Timur Tengah. Begitu pula, saya sudah menjelaskan kalau dulu, dulu sekali, jauh sebelum era Masehi (apalagi era Islam), babi adalah "binatang primadona...

Musuh Islam

Banyak orang Islam yang hidup di abad XXI dengan alam pikiran abad VII. Maksudnya? Ya. Mereka masih memelihara mind set orang-orang Islam di masa Mekkah dan Madinah. Di masa itu orang Islam dimusuhi oleh Quraisy Mekah, diteror, dan diperangi. Sekarang pun pikiran mereka masih seperti itu, selalu menganggap ada sekelompok manusia yang memusuhi Islam, Orang-orang ini selalu menghubungkan kejadian apapun dengan prinsip bahwa Islam selalu dimusuhi dan dizalimi. Apapun yang dilakukan oleh orang lain, dimaknai dengan cara seperti itu. Jangankan perbuatan jahat, perbuatan baik pun mereka curigai. Orang memberi bantuan pada korban bencana, misalnya, mereka tuduh hendak memurtadkan. Tak cukup sampai di situ. Mereka bahkan berfantasi soal orang-orang Islam sendiri, yang mereka tuduh munafik, dan bekerja untuk menghancurkan Islam dari dalam. Yang berbeda pandangan dengan mereka, langsung divonis begitu. Sakit, bukan? Sebenarnya, kalau mereka mau baca sejarah sedikit saja, suasana dizalimi itu...