Dulu waktu saya masih berstatus ustat seorang murid bertanya,"Pak ustat, kenapa saya sulit memahami ajaran islam dengan benar ?"
Saya jawab," karena ada kesenjangan antara pengalaman hidup anda dengan pengetahuan keislaman anda. Pengalaman anda itu pengalaman hidup seorang yang sudah berusia 59 tahun, sedangkan pengetahuan anda itu pengetahuan anak usia 5 tahun. Jadi bagaimana bisa anda memahami sebuah ajaran dengan benar dengan kesenjangan yang njomplang seperti itu ?".
Dia manggut-manggut, tapi pastinya dia gak ngerti apa yang saya katakan.
Banyak orang meminta pendapat atau informasi tentang sebuah ajaran untuk dijadikan salep buat dirinya, untuk dijadikan balsem meskipun yang dia butuhkan sebetulnya pengobatan patah tulang. Tapi karena dia gak tahan sakitnya, dia memilih balsem untuk sekedar mengurangi rasa nyut-nyutan pada tangan atau kakinya yang patah.
Mereka ingin mendengar dari saya apa yang mereka sukai, bukan apa yang mereka butuhkan. Celakanya saya bukan tipe "penghibur", karena menghibur tidak akan membuat persoalan menjadi selesai bahkan berkembang menjadi lebih ruwet.
Ahirnya saya memutuskan untuk meninggalkan kegiatan semacam itu, meninggalkan posisi sebagai ustat dan memilih jadi tukang AC. Paling tidak, dalam persoalan AC, orang2 betul-betul membutuhkan AC yang dingin, bukan hiburan ringan kenapa cuaca menjadi semakin panas.
Itulah manusia. Ketika berbicara tentang segala sesuatu yang berada di luar diri mereka, mereka sangat rasional dan masuk akal. Tapi ketika berbicara tentang diri mereka sendiri, mereka menjadi irasional bahkan tidak masuk akal. Seperti mengoleskan balsem pada tulang yang patah.
Itu sebabnya ketika agama dianggap sebagai identitas diri, menjadi bagian dari diri sendiri seperti tangan dan kaki, manusia berubah jadi mahluk irasional bahkan tidak masuk akal. Kadal jakarta menjadi contoh terbaiknya dengan jargon,"nyoblos anies jannah balasannya
Saya jawab," karena ada kesenjangan antara pengalaman hidup anda dengan pengetahuan keislaman anda. Pengalaman anda itu pengalaman hidup seorang yang sudah berusia 59 tahun, sedangkan pengetahuan anda itu pengetahuan anak usia 5 tahun. Jadi bagaimana bisa anda memahami sebuah ajaran dengan benar dengan kesenjangan yang njomplang seperti itu ?".
Dia manggut-manggut, tapi pastinya dia gak ngerti apa yang saya katakan.
Banyak orang meminta pendapat atau informasi tentang sebuah ajaran untuk dijadikan salep buat dirinya, untuk dijadikan balsem meskipun yang dia butuhkan sebetulnya pengobatan patah tulang. Tapi karena dia gak tahan sakitnya, dia memilih balsem untuk sekedar mengurangi rasa nyut-nyutan pada tangan atau kakinya yang patah.
Mereka ingin mendengar dari saya apa yang mereka sukai, bukan apa yang mereka butuhkan. Celakanya saya bukan tipe "penghibur", karena menghibur tidak akan membuat persoalan menjadi selesai bahkan berkembang menjadi lebih ruwet.
Ahirnya saya memutuskan untuk meninggalkan kegiatan semacam itu, meninggalkan posisi sebagai ustat dan memilih jadi tukang AC. Paling tidak, dalam persoalan AC, orang2 betul-betul membutuhkan AC yang dingin, bukan hiburan ringan kenapa cuaca menjadi semakin panas.
Itulah manusia. Ketika berbicara tentang segala sesuatu yang berada di luar diri mereka, mereka sangat rasional dan masuk akal. Tapi ketika berbicara tentang diri mereka sendiri, mereka menjadi irasional bahkan tidak masuk akal. Seperti mengoleskan balsem pada tulang yang patah.
Itu sebabnya ketika agama dianggap sebagai identitas diri, menjadi bagian dari diri sendiri seperti tangan dan kaki, manusia berubah jadi mahluk irasional bahkan tidak masuk akal. Kadal jakarta menjadi contoh terbaiknya dengan jargon,"nyoblos anies jannah balasannya
Komentar
Posting Komentar