Dalam tradisi Sanata Dharma, dikenal istilah varna yang sering
disamakan dengan kasta. Varna itu status sosial berdasarkan pilihan
sadar, atau bisa juga berdasarkan warisan tapi bukan genetis. Varna
dibagi menjadi 4 strata sosial, yaitu brahmana, ksatriya, waisya dan
sudra.
Brahmana adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk pengetahuan, mungkin di komunitas islam dikenal dengan sebutan ulama.
Ksatriya adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk mengurusi orang lain, baik itu perlindungan maupun pelayanan. Kelompok ksatriya misalnya raja , prajurit, pegawai kerajaan dll.
Waisya adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk memutar roda perekonomian. Sering disebut sebagai "pedagang".
Sudra adalah kelas pekerja, yang membantu tiga jenis pekerjaan di atas. Karyawan kalau dalam istilah jaman sekarang.
Semua varna ini pertama merupakan pilihan sadar seorang manusia. Ada yang memilih untuk jadi agamasan, ada yang memilih untuk jadi pedagang dan ada yang memilih untuk jadi karyawan. Kedua varna bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Misalnya seorang pedagang melatih anaknya untuk berdagang atau seorang karyawan melatih anaknya untuk menjadi karyawan.
Anak seorang raja pada umumnya akan menggantikan ayahnya, untuk menjadi seorang raja. Meskipun demikian, jika terjadi hal yang tidak bisa diduga, posisi raja mungkin tidak akan menjadi miliknya. Bisa saja si anak raja terpaksa melarikan diri, hidup di masyarakat sebagai seorang sudra atau waisya.
Berbeda dengan varna, kasta dianggap menurun secara genetis. Kalu gennya sudra, seumur hidup dia dan semua keturunannya akan menjadi sudra. Padahal fakta menunjukan sebaliknya. Selalu saja ada anak seorang karyawan yang pindah profesi jadi politisi atau pedagang.
Saya misalnya, kalau dilihat dari sudut pandang varna, saya seorang sudra merangkap waisya. Meskipun kadang2 saya bisa menjadi seorang brahmana. Tergantung kebutuhan saja.
Tapi kalau dilihat dari sudut pandang kasta, saya berasal dari kasta ksatriya. Setidaknya kalau kita menganggap kebangsatwanan menurun secara genetis.
Menurut saya, varna jauh lebih masuk akal dibanding kasta. Meskipun tentu saja yang masuk akal sering merupakan hal yang paling tidak disukai. Itu sebabnya kasta datang untuk menggantikan varna dalam kehidupan masyarakat. Karena secara umum manusia selalu menginginkan hal terbaik untuk dirinya dan hal terburuk untuk orang lain. Manusia selalu ingin mempertahankan dominasinya dalam kehidupan, dulu , sekarang dan sampai kapan pun.
Brahmana adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk pengetahuan, mungkin di komunitas islam dikenal dengan sebutan ulama.
Ksatriya adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk mengurusi orang lain, baik itu perlindungan maupun pelayanan. Kelompok ksatriya misalnya raja , prajurit, pegawai kerajaan dll.
Waisya adalah orang2 yang mendarma-baktikan hidupnya untuk memutar roda perekonomian. Sering disebut sebagai "pedagang".
Sudra adalah kelas pekerja, yang membantu tiga jenis pekerjaan di atas. Karyawan kalau dalam istilah jaman sekarang.
Semua varna ini pertama merupakan pilihan sadar seorang manusia. Ada yang memilih untuk jadi agamasan, ada yang memilih untuk jadi pedagang dan ada yang memilih untuk jadi karyawan. Kedua varna bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Misalnya seorang pedagang melatih anaknya untuk berdagang atau seorang karyawan melatih anaknya untuk menjadi karyawan.
Anak seorang raja pada umumnya akan menggantikan ayahnya, untuk menjadi seorang raja. Meskipun demikian, jika terjadi hal yang tidak bisa diduga, posisi raja mungkin tidak akan menjadi miliknya. Bisa saja si anak raja terpaksa melarikan diri, hidup di masyarakat sebagai seorang sudra atau waisya.
Berbeda dengan varna, kasta dianggap menurun secara genetis. Kalu gennya sudra, seumur hidup dia dan semua keturunannya akan menjadi sudra. Padahal fakta menunjukan sebaliknya. Selalu saja ada anak seorang karyawan yang pindah profesi jadi politisi atau pedagang.
Saya misalnya, kalau dilihat dari sudut pandang varna, saya seorang sudra merangkap waisya. Meskipun kadang2 saya bisa menjadi seorang brahmana. Tergantung kebutuhan saja.
Tapi kalau dilihat dari sudut pandang kasta, saya berasal dari kasta ksatriya. Setidaknya kalau kita menganggap kebangsatwanan menurun secara genetis.
Menurut saya, varna jauh lebih masuk akal dibanding kasta. Meskipun tentu saja yang masuk akal sering merupakan hal yang paling tidak disukai. Itu sebabnya kasta datang untuk menggantikan varna dalam kehidupan masyarakat. Karena secara umum manusia selalu menginginkan hal terbaik untuk dirinya dan hal terburuk untuk orang lain. Manusia selalu ingin mempertahankan dominasinya dalam kehidupan, dulu , sekarang dan sampai kapan pun.
Komentar
Posting Komentar